Dunia Orang Tua

Pilar penting dalam Tarbiyah

Serial Tadabur (3)

Bila kita hendak membaca surah Lukman, terbayang bahwa ayat yang kita baca bercerita tentang kisah keluarga Lukman. Memang benar, surah ke- 31 dalam Al Qur’an ini sebagian ayatnya berkisah tentang kisah sarat hikmah dan teladan dari keluarga orang shaleh ini, Allah abadikan agar menjadi contoh teladan keluarga muslim dalam mendidik anak.pilar tarbiyah

Bagi pembaca yang ingin mentadaburi surah makiyyah ini, melihat penyusunan ayat-ayatnya. Maka ia akan mendapatkan hal yang menarik serta pelajaran di dalam surah yang memiliki ayat berjumlah 34 ayat ini. Betapa tidak, bila kita awal kali baru membaca surah ini, melihat nama surah ini yaitu surah Lukman, mungkin langsung berasumsi bahwa kisah Lukman akan dimulai sejak ayat pertama atau minimal 10 ayat pertama sebagaimana penyajian kisah dalam surah Yusuf. Faktanya tidak demikian, justru penyebutan kisah ini baru dimulai dari ayat ke- 11. Inilah yang menarik!!!

Ada apa Allah menamai surah ini dengan Lukman tapi tidak mengawali ayat pertama dengan kisahnya? Hikmah apa yang hendak Allah inginkan bagi hamba-Nya dengan penyusunan surah ini? Apa pelajaran yang bisa dipetik ketika Allah memberikan “ayat pengantar” sebelum memasuki kisah Lukman dalam aktifitas mendidik anak? Yah itulah beberapa pertanyaan sebagai perangkat tadabbur surah ini. Pelajarannya adalah “ayat pengantar” itu, ayat 1-11 adalah bekal-bekal mendidik atau pilar-pilar dalam tarbiyah.

Salah satu pilar penting dalam ayat 10 dan 11 adalah penanaman nilai tauhid atau pendidikan tauhid. Dua ayat yang menekankan tentang rububiyah Allah. Tauhid ini jauh lebih penting dari tauhid uluhiyah dari segi urutan. Karena uluhiyah adalah efek dari rububiyah. Para ulama menyimpulkan bahwa keyakinan kepada tauhid rububiyah akan menuntun kepada keyakinan uluhiyah. Kurang perhatian kaum muslimin, penanaman tauhid rububiyah, memberi pengaruh terhadap tauhid uluhiyah.

Pengertian tauhid rububiyah intinya adalah bagaimana kita mengesakan Allah dalam segala perbuatan Allah, Kita yakin hanya Allah menciptakan langit tanpa tiang, menghamparkan gunung-gunung, agar tidak menggoncangkanmu, Allah mengembangbiakan binatang melata, menurunkan dari langit air, dari air menumbuhkan berbagai tanaman. Tidak ada sekutu dalam penciptaan itu, keteraturan ciptaan-ciptaan tersebut adalah buktinya, yang tidak mungkin selain Allah dapat menciptakan seperti itu. Itulah isi dari ayat 10 dan 11.

خَلَقَ السَمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ (10﴾ هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (11﴾

“Dia yang menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia(bumi) tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan segala macam jenis makhluk bergerak yang bernyawa di bumi. Dan kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik” (ayat 10)

“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh(sesembahanmu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata” (ayat 11)

Pelajarannya adalah pendidikan tauhid harus diprioritaskan dalam proses pendidikan, pendidikan tauhid sebagai bekal pengantar pendidikan dalam penanaman nilai-nilai yang lain. Baik bekal pendidik maupun sebagai hal pertama yang harus diajarkan bagi peserta didik.

Kekuatan nilai tauhid ini sudah terbukti dari generasi ke genarasi. Terukir indah dalam lembaran-lembaran tinta emas sejarah. Adalah perkataan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah bukti nyata kuat dan dalamnya nilai tauhid yang terhunjam dalam jiwanya.

“Apa yang hendak diperbuat musuh-musuhku. karena syurga itu ada di dalam hatiku. Kemanapun aku pergi ia senantiasa bersamaku. Jika mereka mengusirku,maka itu tamasya bagiku. Jika mereka memenjarakanku maka itu khalwat bagiku. Jika mereka membunuhku, maka itu adalah kesyahidan bagiku”

Tidaklah pernyataan diatas tersebut muncul kecuali manakala nilai tauhid melekat kuat dalam sanubari. Semoga dengan pilar penting tarbiyah ini, penanaman nilai tauhid sejak dini, kelak generasi rabbani menghiasi generasi negeri ini … aamiin.

IAH

(Sepenggal faedah dari kajian pembinaan guru oleh ustadz Abu Ayub hafidzahullah dengan tambahan narasi dari penulis)

—–

(Sleman, 4 Dzul Hijjah 1436 H, bertepatan 18 September 2015 M)

.

Tinggalkan Balasan