Dunia Orang Tua

Ramadhan Mengajar

Puasa adalah bulan tarbiyah atau pendidikan. Banyak nilai-nilai tarbiyah yang mulia yang bisa direngkuh darinya. Barang siapa yang kurang mampu mengambil nilai-nilai tersebut maka bisa dikatakan ia serugi-rugi manusia. Kenapa? Karena ia sudah diberi kesempatan menjumpai ramadhan, yang mana ada banyak sekali manusia yang tak diberi kesempatan sepertinya tersebab karena ajal kematian yang sudah menjemput. Tetapi kesempatan mahal ini ia tak mampu mengambilnya dengan baik.

Sangat merugi, jika dengan adanya bulan Ramadhan ia tak bisa mengambil manfaat, maka bagaimana ia bisa diharap mengambil manfaat pada bulan-bulan selainnya.

Apa sih pelajaran dari bulan ramadhan? Banyak sekali tentunya, diantaranya adalah sebagai berikut;

1. Melatih kesabaran.

Seorang yang berpuasa berarti siap untuk berlapar dahaga semenjak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Bersabar kali kesempatan ini sangat menarik. Karena ia bukan bersabar terhadap sesuatu yang sejatinya di luar ramadhan dilarang, tetapi sesuatu yang halal dan boleh di luar ramadhan. Tetapi di bulan ramadhan ia dilarang dalam rentang waktu tertentu. Ia harus menahan diri, melatih diri bersabar terhadap hal-hal yang mubah tersebut.

Pelajarannya, bagi yang bisa berhasil bersabar di bulan Ramadhan, tentunya bisa diharapkan mampu bersabar di luar Ramadhan, baik terhadap hal-hal yang dibolehkan apalagi terhadap hal yang terlarang.

Ternyata bersabar itu tidak hanya dalam menjalankan keta’atan semata. Namun dalam menjauhi kemaksiatan itu juga butuh bersabar dalam meninggalkannya.

2. Melatih kepekaan dan kepedulian.

Biasanya bagi orang yang hidup bergelimang harta, maka ia tak pernah bisa merasakan sulitnya hidup dalam kekurangan. Ia tak bisa merasakan sejatinya orang hidup di bawah garis kemiskinan itu butuh yang namanya uluran tangan, butuh bantuan orang-orang yang berkecukupan.

Dengan berpuasa ia akan bisa merasakan bagaimana kondisi saat kelaparan. Dengannya akan melahirkan kepekaan dan kepedulian. Dengannya ia paham dan mengerti ketika ia puasa selang beberapa jam saja, rasa lemah itu ia rasakan dan ia pun merasa dalam kondisi tidak nyaman. Ia akan berfikir bagaimana kondisi orang-orang yang di bawah kemiskinan. Mereka tidak hanya mengalami kondisi kelaparan tersebut bukan hanya hitungan jam, tapi kadang menjadi sebuah kebiasaan kehidupan sehari-hari mereka.

Berawal dari merasakan itulah bisa jadi memotivasinya ringan untuk memberi, cepat dalam membantu.

3. Melatih hidup hemat

Ini hal yang menarik sekaligus telah terjadi pergeseran penyikapan dan prilaku. Dimana sejatinya puasa itu melatih menahan diri dari yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Yang mengharuskan ia hanya makan 2(dua) waktu saja yaitu saat sahur dan berbuka. Padahal di luar puasa Ramadhan menjadi sebuah kebiasaan ia makan 3(tiga) kali dalam sehari. Di sinilah letak tarbiyah Ramadhan, ia mengajarkan nilai hemat. Orang yang berpuasa akan bisa menghemat 1(satu) kali dalam sehari biaya makan. Jika dihitung selama sebulan maka nilai penghematan akan bernilai besar.

Namun sayangnya fenomena di masyarakat terjadi sebaliknya. Bulan puasa dijadikan ajang habis-habisan. Memang makannya sama hanya dua waktu, tapi menu yang disajikan terkadang tidak wajar dan cenderung berlebihan. Ketika berbuka ia menikmati beberapa menu makanan sekaligus, bahkan yang menyedihkan selalu meninggalkan sisa makanan yang tentunya sia-sia dan ini terlarang.

4. Melatih sedekah.
Pelajaran ini muncul bermulai dari pelajaran nilai kepekaan dan nilai berhemat.
Jika seorang yang berpuasa mampu mengambil nilai kepekaan dan nilai berhemat maka sangat besar kiranya ia mampu mengambil pelajaran dari Ramadhan tentang sedekah. Karena ia memiliki kelebihan harta dari proses nilai berhemat tadi. Jika kepekaan yang terasah dari Ramdhan mengajar sampai tingkatan kepedulian yang kuat maka ia tak perlu ragu dan tak perlu menunda dan bingung bersedekah. Ia tinggal menyedekahkan hasil nilai penghematan tadi kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya.

Demikian beberapa nilai pelajaran dari Ramadhan. Tersebut empat hal disini bukan pembatasan. Bagi yang ingin lebih mengkaji akan banyak menemukan pelajaran yang ada. Pelajaran dari Ramadhan mengajar. Wallahu a’lam.(KI)

Tinggalkan Balasan