Dunia Pengajar

Saya Tidak Tahu

papan tulis hitam2

Tidak menutup kemungkinan seorang siswa akan bertanya kepada sang guru lalu guru tersebut ternyata tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan itu. Dalam situasi seperti ini, sang guru diberi dua pilihan, menjawab namun dengan asal-asalan atau tidak menjawab dengan mengatakan; Saya Tidak Tahu.

Lalu, bagaimanakah Islam memandang masalah di atas? Apa yang harus dilakukan oleh seorang guru? Apakah menjawab dengan asal-asalan atas nama menjaga kehormatan? Mari kita simak penjelasan singkatnya.

Ilmu adalah lautan yang tidak memiliki tepi, dan tidak akan dikuasai kecuali oleh Dzat Yang IlmuNya mencakup segala sesuatu. Sementara manusia, pembendaharaan mereka dalam ilmu adalah sedikit. Allah berfirman,

“…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Q.s. Al-Isra’: 85)

Jika demikian, maka tidak perlu ada malu dan tidak pula cela jika seorang guru atau lainnya mengucapkan “Saya Tidak Tahu” pada apa yang tidak diketahuinya.

Sungguh kejelekan yang paling buruk adalah menipu dan mengelabui manusia dengan perkataan salah dan keliru. Dan para siswa tetap akan mengetahui hal itu, baik cepat maupun lambat. Dan saat itulah, (saat siswa mengetahui kebohongan gurunya) wibawa seorang guru akan runtuh di mata siswa-siswanya dan mereka tidak akan lagi percaya terhadap pelajaran dan materi yang disampikan oleh guru tersebut.

Allah telah mencela orang-orang yang berbicara tanpa dasar ilmu. Yang demikian itu, karena orang yang berbicara tanpa dasar ilmu akan menyesatkan, tidak memberi petunjuk; merusak dan tidak memperbaiki. Dan ucapan seseorang “Saya Tidak Tahu” pada apa yang tidak diketahuinya dan tidak mengerti bukanlah aib (cela), dan tidak pula akan mengurangi ilmu dan kedudukan orang tersebut, bahkan sikap tersebut merupakan bukti kesempurnaan ilmunya.

Wallahu a’lam.

– Diringkas dari buku Begini Seharusnya Menjadi Guru karya Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub.

.

Tinggalkan Balasan