Dunia Orang Tua

Seharusnya dalam Setiap Lelah

Setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya lelah. Munculnya lelah pun antara satu orang dengan yang lain pasti berbeda. Ada yang lelah karena aktifitas pekerjaan tiap hari yang tak kunjung selesai bahkan cenderung bertambah, baik kualitas maupun kuantitasnya.

Ada yang mengalami kelelahan dalam berfikir dan ada pula yang lelah kondisi fisik atau badannya.

Ketika lelah menyapa, banyak dari kita menghadapinya dengan istirahat sejenak atau mencari aktifitas lainnya yang lebih ringan atau menghibur, seperti bernasyid, jalan-jalan, rekreasi dan lain sebagainya.

Itu semua adalah hal yang sah-sah saja dilakukan. Asal tidak melanggar syariat Allah dan dilakukan seperlunya.

Sebenarnya jika kita mau mengkaji dan menelisik lebih jauh tentang bagaimana menyikapi keadaan lelah ini. Maka kita akan menemukan cara cerdas menyikapi dan melewati kondisi lelah ini.

(وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا)

Artinya :
“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”
(Q.S An-Nisa’ : 104)

Dari firman Allah di atas bagi seorang muslim, pasti tau akan adanya pelajaran mahal di sana. Bahwa Allah Ta’ala menginformasikan bahwasanya tidak hanya kondisi lemah saja, bahkan lebih dari itu yaitu kondisi sakit yang kita rasakan seharusnya tak perlu membuat kita menyerah, bahkan seharusnya membuat kita semakin kuat dalam menghadapi kelelahan, semakin teguh ketika kita menemui kondisi lebih dari itu.

Bukankah kelelahan yang kita rasakan seharusnya berkurang tatkala kita tau bahwa bukan kita belaka yang merasakan letih, bukan kita satu-satunya yang menderita. Ada orang lain yang juga merasakan letih. Bahkan musuh-musuh pun ternyata juga merasa letih. Semua merasa letih.

Malah sebaliknya, dari ayat di atas kita seharusnya semakin teguh dalam beraktifitas walaupun harus berletih lelah, karena musuh saja ternyata mau dan siap berpayah-payah dalam aktifitasnya, padahal mereka jelas-jelas berjuang dalam hal menyimpang.

Dari kalam Ilahi tersebut seharusnya semakin memantik semangat pejuang kita, karena kita selaku muslim memiliki pembeda pembatas keletihan yang sama-sama juga mereka rasakan.

Mereka dalam letihnya ternyata tak akan ada harapan terganjarnya dengan pahala. Malah sebaliknya karena aktifitas mereka yang tidak dibangun dengan keimanan kepada Allah, maka aktifitasnya tak akan bernilai, perbuatan mereka akan sia-sia belaka.

(وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا)
Artinya :
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”.
(Q.S. Al-Furqan : 23)

Keletihan yang seorang muslim alami selalu diiringi harapan pahala terkucur pada diri mereka. Dan seorang muslim selalu yakin bahwa Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang beriman. Dan Allah-lah sebaik-baiknya memberi pembalasan. So … sudah tau kan bagaimana seharusnya seorang muslim ketika letih menyapa? Semoga selalu semangat … aamiin.

Tinggalkan Balasan