Diary Guru

Tadaburi surah Lukman, raih “5 P” sebagai kiat sukses mendidik!

Serial Tadabbur (1)

kiat sukses

Tadabur itu mudah dan dapat dilakukan oleh semua orang. Itulah satu dari sekian pesan emas yang Abu Ayub –hafidhahullah– bawakan pagi ini, sabtu 29 agustus 2015.

Ustadz yang menjadi ketua YPWIY ini memberikan alasan, “Tadabur tidak membutuhkan perangkat ilmu tafsir, bukan mengeluarkan hukum-hukum , walaupun kalau punya itu lebih utama, karena tadabburi adalah mengambil nilai-nilai” paparnya.

Tadabur surah Al Lukman menjadi pilihan, karena bagi pemilik usaha travel umrah “Thoyyibah Wisata Utama” ini, mengakui bahwa sejak dahulu, waktu dibangku perkuliahan, sampai sekarang ia terus mengkaji dan mentadaburi satu surah ini dari 3(tiga) surah yang digemari, yaitu surah An Nur, surah Lukman dan surah Al Qoshos. “Surah ini tidak terlalu panjang, membahas banyak aspek, sarat dengan hikmah dan nasihat”, tuturnya beralasan.

Dari pemaparan pengusaha muda ini, ada lima nasihat atau kiat bagi pendidik yang dapat saya rangkum dari surah ke- 31 (tiga puluh satu) ini.

Pertama : Perlunya kontribusi.

Identitas Lukman yang tidak Allah jelaskan secara rinci menjadi hasil tadabur dari penjelasan penamaan nama surah makiyah ini. Menurut beliau, yang terpenting adalah peran dan kontribusi.

“Siapa Lukman, siapa dia, nabi atau bukan? Itu tidak penting, karena Allah pun tidak menjelaskan, sebagaimana surah Yasin. Dalam kehidupan termasuk tidak penting, nama kita tercantum, yang terpenting adalah peran kita”, jelasnya dengan meyakinkan.

Kedua : Pilihlah cara yang menarik

“Awalilah sesuatu yang menarik!” , mencoba mengambil hikmah dari tadabur ayat pertama, ayat muqotho’ah. Ayat terdiri dari tiga huruf ini, Alif lam mim adalah ayat yang para ahli tafsir menyikapinya dengan mengembalikan maknanya pada Allah subhaana wata’ala. Hikmah yang beliau ambil bahwasanya ini adalah salah satu metode pembelajaran yang menarik yang dewasa ini diadobsi oleh pakar pendidikan.

Salah satu contoh atau metode bagaimana Allah mengawali sesuatu yang menarik. Ayat-ayat muqoto’ah ini menimbulkan penasaran orang-orang Quraisy, mereka tertarik kemudian mau mendengarkan. Ini kemudian dicontoh para pakar pendidikan sekarang”, jelasnya sambil menceritakan pengalaman pribadi dalam menggunakan metode ini dalam berceramah, yang hasilnya beliau rasakan jauh lebih baik, lebih banyak yang tertarik memperhatikan daripada menggunakan cara-cara yang konvesional atau umum orang gunakan. Intinya adalah bagaimana memilih cara penyajian materi yang menarik, cari cara yang kreatif, yang berbeda dari cara keumuman orang gunakan.

Ketiga : Perhatikan skala prioritas

Dari pengetahuan tempat turunnya surah inilah, point ini diambil. Hubungan surah ini dengan masa turunnya atau yang lebih dikenal dengan sebutan surah Makiyyah, faedah ini diambil. Tepatnya pengetahuan tentang konten dakwah beliau shallallahu ‘alahi wasallam pada periode makiyyah dan madaniyah, yang mana masa makiyyah dikenal dengan periode penanaman aqidah, penanaman keyakinan yang merupakan pondasi penting beragama.

“Hubungannya dikatakan makiyah, karena mengandung prinsip-prinsip aqidah”, Beliau melanjutkan dengan berkata : “ termasuk surah makiyah, yang mengandung prinsip-prinsip penanaman aqidah. Ini penting karena semua diawali dari pembenahan aqidah, hal penting dalam beragama”, terangnya saat menjelaskan klasifikasi surah Lukman ini.

Anjuran mengawali pembenahan aqidah dari pada yang lain, menunjukkan pentingnya skala prioritas.

Keempat : Perkuat pondasi iman dengan amal

“Inilah ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hikmah, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, (yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan mereka meyakini adanya akhirat, merekalah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan-nya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” Q.S. Lukman ayat 2 sampai 5.

Ayat ke- 2 sampai 5 menjelaskan keberuntungan, kesuksesan” jelas beliau. Beliau juga menambahkan sekaligus bertanya : “Bagaimana membangun kesuksesan dalam hidup?” Menurut beliau kesuksesan hidup yang hakiki, salah satunya adalah bagaimana menanamkan rasa cinta anak terhadap Al Qur’an, “Kesuksesan kita adalah menanamkan kecintaan terhadap al Qur’an, “Anak-anak kita , kita sibukkan dengan Al Qur’an”.

Ada tadabbur beliau yang menarik, tatkala menjelaskan ciri orang Ihsan adalah orang yang melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan meyakini hari akhirat. Beliau mentadabburi pada kata melaksanakan zakat bahwa bisa jadi batasannya tidak hanya sebatas zakat. Artinya orang yang Ihsan juga harus berkorban, menghibahkan serta menghidmatkan segala potensinya, baik waktu, tenaga dll untuk kepentingan agama.

Perlunya iman itu dibuktikan dengan program-program amal yang nyata. Ketika kita membaca hadis “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya memuliakan tetangganya”, perlu kita buat program nyata untuk tetangga. seperti selalu mengagendakan membelikan oleh-oleh ketika kita pulang dari luar kota misalnya atau program-program yang lain. Hal ini selain melaksanakan konsekuensi keimanan juga nyata pengaruhnya.

Kelima : Pastikan dan Ajarkan mereka bangga dengan Islam.

Poin ini yang beliau sayangkan dengan mengatakan “hal ini banyak diabaikan dewasa ini” . Kebanggaan berkhidmat dengan agama, baik dengan umur, tenaga, waktu maupun materi.

Beliau berharap kepada para pendidik untuk mengajari mereka kebanggaan terhadap agama ini. “Ajari dan biasakan mereka menghibahkan pada Agama, bangga berkhidmat dengan agama, umur, tenaga, waktu dan materi”, Ajaknya kepada pada pendidik YPWIY. Sebagaimana kisah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bangga dengan agamanya dengan berkata ; “Nahnu kaumun ‘azzanallah bil Islam”, kami adalah umat yang dimuliakan Allah dengan Islam.

Mudah-mudahan kiat-kiat penting hasil tadabbur ini, bisa kita wujudkan dalam realita pendidikan lembaga kita, In sya Allah dengannya kesuksesan akan datang menghadiri. Ayo Wujudkan!!!

IAH

—–

(Sleman, 14 Dzul Qo’dah 1436 H, bertepatan 29 Agustus 2015 M)

.

Tinggalkan Balasan